Jakarta, 15 April 2026 — Menanggapi lonjakan harga sapi yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Senator Mirah Midadan Fahmid menyampaikan bahwa fenomena ini perlu disikapi secara seimbang, baik sebagai peluang ekonomi bagi peternak maupun tantangan bagi daya beli masyarakat.
Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Lombok Timur, harga sapi potong mengalami kenaikan signifikan dari kisaran Rp52.000–Rp55.000 per kilogram berat hidup pada bulan Ramadan menjadi sekitar Rp62.000 per kilogram saat ini.
Bahkan, harga per ekor sapi yang sebelumnya berada di angka Rp18 juta kini dapat mencapai Rp25 juta atau lebih. Kenaikan ini juga diiringi dengan meningkatnya aktivitas jual beli di Pasar Ternak Masbagik yang mencatat perputaran ekonomi hingga Rp10,5 miliar dalam satu kali pasaran.
“Kenaikan harga ini tentu menjadi angin segar bagi para peternak, terutama setelah menghadapi berbagai tantangan dalam sektor peternakan. Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap hewan kurban meningkat secara signifikan,” ujar Senator Mirah.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa lonjakan harga yang terlalu tinggi berpotensi menimbulkan beban bagi masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah yang ingin melaksanakan ibadah kurban. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.
Senator Mirah mendorong pemerintah untuk memperkuat distribusi ternak antarwilayah guna menghindari ketimpangan pasokan yang dapat memicu spekulasi harga. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap praktik perantara atau tengkulak yang dapat memperparah kenaikan harga di tingkat konsumen.
“Pemerintah perlu memastikan bahwa rantai distribusi berjalan efisien dan transparan. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan berlebih di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan hewan kurban,” tegasnya.
Lebih lanjut, Senator Mirah juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan program subsidi atau fasilitasi pembelian hewan kurban bagi masyarakat kurang mampu, baik melalui skema koperasi, BUMDes, maupun kolaborasi dengan lembaga keagamaan. Hal ini dinilai penting untuk menjaga semangat kebersamaan dan nilai sosial dalam perayaan Iduladha.
Di sisi lain, ia mengapresiasi tingginya aktivitas ekonomi di Pasar Ternak Masbagik yang menjadi salah satu pusat perdagangan ternak terbesar di Nusa Tenggara Barat. Dengan rata-rata 700 ekor sapi terjual dari total 800 hingga 1.000 ekor yang masuk setiap harinya, pasar ini menunjukkan peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah.
“Kita ingin peternak sejahtera, tetapi masyarakat juga harus tetap memiliki akses yang wajar terhadap hewan kurban. Di sinilah peran negara untuk hadir memastikan keadilan ekonomi bagi semua pihak,” pungkasnya.***




