Senator Mirah Minta DTSEN Lebih Adaptif, Pastikan Perubahan Kondisi Warga NTB Tak Terlewat

LINGKAR INSPIRASI – Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, menilai penggunaan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai rujukan bersama pemerintah merupakan langkah penting untuk memperbaiki ketepatan sasaran program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Namun, menurutnya, kualitas DTSEN harus terus dijaga agar mampu mengikuti perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berlangsung dinamis.

“DTSEN harus menjadi instrumen yang benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat. Jangan sampai data menjadi lebih lambat daripada perubahan kehidupan warga. Ketika satu sistem data digunakan sebagai rujukan berbagai program, akurasinya menjadi sangat menentukan apakah masyarakat yang membutuhkan benar-benar mendapatkan akses terhadap intervensi pemerintah,” ujar Mirah.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa DTSEN kini menjadi rujukan bersama untuk perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program pemerintah. DTSEN dibangun dari integrasi DTKS, P3KE, Regsosek, serta berbagai data administratif dan data kependudukan. Per 10 Juli 2026, DTSEN versi 3 mencakup 290,13 juta individu dan 95,98 juta keluarga. 



Mirah menekankan perhatian khusus perlu diberikan kepada NTB. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin NTB pada Maret 2026 mencapai 628,50 ribu orang atau 11,17 persen. 

“Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas data bukan sekadar persoalan administrasi. Bagi keluarga yang berada dalam kondisi rentan, perubahan pekerjaan, pendapatan, tempat tinggal, atau komposisi keluarga dapat berpengaruh terhadap kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar. Karena itu, pembaruan data harus mampu menangkap perubahan tersebut secara cepat dan akurat,” katanya.

Menurut Mirah, mekanisme pemutakhiran DTSEN yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa atau kelurahan, pendamping sosial, hingga masyarakat harus diperkuat. BPS menyebut pemutakhiran dilakukan melalui data administrasi, sensus dan survei, pemutakhiran kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, ground check, serta partisipasi masyarakat. 



“Jangan hanya menunggu data administratif berubah. Pemerintah daerah dan pemerintah desa memiliki pengetahuan paling dekat mengenai dinamika masyarakat. RT, RW, kader, pendamping sosial, dan masyarakat sendiri juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan perubahan kondisi secara mudah dan terukur,” ujar Mirah.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat memahami bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif, bukan ukuran tunggal kemiskinan maupun jaminan otomatis menerima bantuan. BPS menjelaskan bahwa penentuan desil mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama dan setiap program pemerintah memiliki kriteria penerima masing-masing. 

Karena itu, Mirah mendorong pemerintah memastikan mekanisme usul dan sanggah berjalan efektif, mudah diakses, serta memberikan kepastian proses kepada masyarakat.



“Ketika warga merasa data keluarganya tidak sesuai, harus tersedia jalur koreksi yang jelas. Masyarakat perlu tahu ke mana menyampaikan keberatan, dokumen apa yang diperlukan, dan bagaimana proses verifikasinya. Partisipasi masyarakat harus menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar pelengkap,” tegasnya.

Mirah menambahkan, penguatan DTSEN perlu diarahkan pada prinsip akurasi, keterbaruan, transparansi, dan akuntabilitas. Dengan demikian, data tidak berhenti sebagai basis administrasi, tetapi menjadi instrumen untuk memastikan kebijakan pemerintah benar-benar menjangkau masyarakat sesuai kondisi faktual di lapangan.

“Bagi NTB, DTSEN harus menjadi alat untuk memastikan tidak ada keluarga rentan yang terlewat dan tidak ada intervensi yang diberikan tanpa dasar data yang memadai. Data yang akurat pada akhirnya harus bermuara pada kebijakan yang tepat dan perlindungan yang nyata bagi masyarakat,” pungkas Mirah.***

Related Posts

Dari DPD RI untuk Rakyat, Bantuan Rp50 Juta Mengalir bagi Korban Kebakaran Dusun Serdang

LINGKAR INSPIRASI – Empat Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkolaborasi menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp50.000.000 bagi masyarakat terdampak musibah kebakaran…

Senator Mirah: MotoGP Mandalika Harus Jadi Panggung UMKM NTB Naik Kelas

LINGKAR INSPIRASI – Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, mengapresiasi langkah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB yang memfasilitasi 25 UMKM dari 10 kabupaten/kota untuk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Dari DPD RI untuk Rakyat, Bantuan Rp50 Juta Mengalir bagi Korban Kebakaran Dusun Serdang

  • By Jo Cha
  • October 19, 2026
  • 1 views
Dari DPD RI untuk Rakyat, Bantuan Rp50 Juta Mengalir bagi Korban Kebakaran Dusun Serdang

Senator Mirah: MotoGP Mandalika Harus Jadi Panggung UMKM NTB Naik Kelas

  • By Jo Cha
  • October 15, 2026
  • 1 views
Senator Mirah: MotoGP Mandalika Harus Jadi Panggung UMKM NTB Naik Kelas

Marc Marquez Belum Pernah Finis di Mandalika, Gubernur Lalu Iqbal Beri Sembeq: Tahun Ini Berbeda

  • By Jo Cha
  • October 8, 2026
  • 3 views
Marc Marquez Belum Pernah Finis di Mandalika, Gubernur Lalu Iqbal Beri Sembeq: Tahun Ini Berbeda

Mandalika Jadi Rumah, NTB Sambut Para Rider dengan Energi Dunia

  • By Jo Cha
  • October 8, 2026
  • 4 views
Mandalika Jadi Rumah, NTB Sambut Para Rider dengan Energi Dunia

Masyarakat Kobar Minta Rumah Oksigen, dr. Erni Daryanti Dorong Pemda Segera Tindaklanjuti Dampak Karhutla

  • By Jo Cha
  • October 8, 2026
  • 5 views
Masyarakat Kobar Minta Rumah Oksigen, dr. Erni Daryanti Dorong Pemda Segera Tindaklanjuti Dampak Karhutla

CKG Harus Menjangkau Seluruh Desa di Kalimantan Tengah, Erni Daryanti Soroti Nakes, Fasilitas, dan Alkes

  • By Jo Cha
  • October 7, 2026
  • 6 views
CKG Harus Menjangkau Seluruh Desa di Kalimantan Tengah, Erni Daryanti Soroti Nakes, Fasilitas, dan Alkes